Prapaskah: JalanKu Bukan Jalanmu

Logo KOMKEP KAJ
Maret 7, 2022
Sepeser Uang Rp10.000
Maret 26, 2022

Ketika kita mencoba merenungkan tema tersebut; “apa yang terlintas dalam pikiran kita?” Mungkin banyak hal yang membuat kita kebingungan dan menimbulkan pertanyaan. Ada yang bertanya, apakah dalam Kitab Suci Kristiani ada yang membahas tema ‘JalanKu bukan jalanmu’? Siapa yang dimaksud dengan ‘JalanKu dan jalanmu?’ Kita berpikir bahwa kata “jalanKu” merujuk pada pribadi Tuhan, sedangkan kata “jalanmu” merujuk pada diri kita. Jadi dapat disimpulkan demikian: “jalan Tuhan bukan jalan kita.”

Pertanyaannya sekarang adalah: ‘Mengapa dikatakan jalan Tuhan bukan jalan kita?’ Pertama, kita diciptakan oleh Tuhan, sedangkan Tuhan yang menciptakan kita dan segala sesuatu yang ada di bumi. Kedua, kita sering kali melakukan dosa, sedangkan Yesus, sebagai Tuhan dan manusia, tidak pernah melakukan dosa. Ketiga, kita terkadang tidak sanggup mengalahkan yang jahat dengan kebaikan, sedangkan Yesus mampu mengalahkan yang jahat dengan kebaikan seperti ketika Dia diejek, diludahi, dimusuhi, dianiaya, bahkan sampai mati di kayu salib. Dia tidak pernah membalas perbuatan jahat musuh-musuh-Nya dan Dia malah mendoakan mereka (Bdk. Luk. 23:34).

Berdasarkan ketiga jawaban itu, dapat disimpulkan bahwa kita dan Tuhan memang berbeda, seperti yang tertulis dalam Kitab Yesaya “jalanmu bukan JalanKu” (Yes. 55:8). Tetapi, apakah kita akan mempersoalkan perbedaan antara kita dengan Tuhan? Sebaiknya kita akan lebih merenungkan bagaimana kita bisa mengikuti jalanNya. Maksudnya adalah  kita berusaha melakukan sikap-sikap baik yang diajarkan Tuhan melalui sabdaNya. Kita, sebagai pengikutnya, seharus merasa bangga dengan Tuhan. Karena Dia adalah teladan hidup kita yang sejati. Dia mengajarkan banyak hal kepada kita seperti mengasihi, mengampuni, berdoa, melawat orang sakit, bersyukur dan berbagi. Melalui yang diajarkan-Nya itu kita dapat mengikuti jalan-Nya.

Bagi kita, mengikuti jalan Tuhan tidaklah mudah sebab banyak tantangan dan godaan yang harus dihadapi. Namun apakah kita langsung menyerah begitu saja tanpa berusaha terlebih dahulu? Tentu saja tidak. Maka kita bisa memulai hal-hal sederhana di dalam keluaraga. Misalnya, ketika ada anggota kelurga yang sakit, kita harus melawatnya. Dalam melawat orang sakit diperlukan sikap yang sabar dan tulus ikhlas.

Akan tetapi, kita perlu juga berbuat kasih kepada orang yang ada di sekitar. Tidak perlu jauh-jauh ketika tetangga kita ada yang sakit atau kurang mampu. Hal yang perlu kita buat untuknya adalah menjenguk kalau ia sakit atau memberi sembako bagi orang yang tidak mampu. Nah, tindakan kita akan sangat berarti bagi mereka. Walaupun itu hanya sederhana. Sebab sikap kasih adalah sifat Allah. Allah telah mengasihi kita semua. Serta Ia mengampuni kesalahan kita atau keberdosaan kita. Kalau Allah mengampuni kesalahan yang sering kita buat, ‘mengapa kita tidak mengampuni ketika orang lain berbuat salah kepada kita?’ Karena dalam Kitab Suci mengajarkan bahwa ‘kita harus saling mengampuni’ (Bdk. Mat. 6:14).

Secara tidak langsung kita mengetahui bahwa kesempurnaan Allah terdapat dalam Diri Yesus. Itulah yang membuat-Nya tak terpikirkan oleh manusia. Melalui kehadiran Yesus, Allah ingin menjadi dekat dengan manusia. Karena Yesus adalah Putra Allah. Allah yang adalah kasih dan penuh pengampunan tampak dalam Diri Yesus. Melalui Yesus Allah hendak menyampaikan rencana keselamatan-Nya kepada manusia. Yesuslah yang akan menjadi pelaksana keselamatan bagi manusia. Yesus menyelamatkan manusia dengan menebus dosa-dosa manusia melalui jalan salib dan kematian di kayu salib. Kita, sebagai manusia biasa, tidak mampu melakukan seperti yang Yesus lakukan. Maka, jalan kita berbeda dengan jalan Yesus di kayu salib.

Tetapi melalui teladan hidupNya, kita bisa mengikuti cara hidup Yesus sebagai Putra Allah. Pertama, sikap kasih yang bisa diwujudkan dengan cara mengasihi siapapun (tanpa membeda-bedakan). Kedua, sikap mengampuni yang diwujudkan kepada orang lain yang pernah berbuat salah kepada kita. Cara-cara hidup yang penuh kasih dan pengampunan adalah sifat Allah. Memang sifat tersebut tidak mudah dijalankan, karena kita tidaklah sempurna. Salah satu ketidaksempurnaan kita adalah sikap egois. Keegoisan kita membuat jauh dari rancangan keselamatan Allah. Padahal Allah selalu menawarkan keselamatan kepada kita.

Semoga melalui permenungan hari ini, kita semakin dimampukan untuk mewujudkan cara hidup yang diajarkan oleh Yesus, seperti sikap kasih dan mengampuni. Karena kita tahu bahwa Allah telah mengasihi dan mengampuni kita. Dengan demikian, kita diajak untuk belajar mengikuti jalan dan rencana Allah yang tampak pada diri Yesus.

 

In Corde Iesu

Fr. FX. Andi Prima Purwonugroho, SCJ

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now
Whatsapp