Mana Yang Harus Saya Pilih?

IG LIVE NONGOL – Februari 2022
Februari 2, 2022
Dehonian Day 179
Februari 26, 2022

Cinta Horizontal (Allah) dan Cinta Vertical (Manusia)

Mana Yang Harus Saya Pilih?

 

Salah satu topik yang menarik untuk dibahas ketika bertemu dengan orang muda adalah topik mengenai cinta. Hal tersebut menjadi menarik karena; pertama, cinta dianggap sebagai suatu dasar untuk dapat berelasi baik dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Kedua, cinta dianggap sebagai suatu kekuatan yang dapat mengubah sikap seseorang. Ketiga, cinta dianggap sebagai sesuatu yang harus dimiliki oleh seseorang untuk menemukan pasangan hidup. Keempat, cinta dianggap sebagai suatu misteri yang menimbulkan banyak pertanyaan.

Mungkin masih banyak alasan lain yang membuat orang tertarik untuk membahas soal cinta. Namun sekurang-kurangnya, empat alasan tersebut bisa dijadikan sebagai representasi dari seribu satu alasan yang lain. Dari keempat alasan tersebut, kita juga mengartikan cinta sebagai suatu ungkapan kasih yang ditunjukkan dalam bentuk kata dan tindakan; contohnya ketika kita mengatakan “aku cinta kamu.” Dalam ungkapan tersebut, kita selalu berusaha untuk menunjukkan cinta kita dalam bentuk perkataan dan tindakan terhadap orang yang kita cintai.

Kita meyakini bahwa setiap orang memiliki hak untuk mencintai dan dicintai. Akan tetapi, sering kali kita merasa bahwa kita dihadapkan pada suatu pertanyaan mengenai cinta siapa yang harus kita pilih atau kepada siapa kita harus membagikan cinta kita? Apalagi jika pilihan tersebut melibatkan Sang cinta itu sendiri, yakni Allah.

Kita tidak perlu jauh-jauh mencari contoh. Kita bisa melihat sendiri contoh kecil dari pengalaman hidup sehari-hari. Sebagai seorang Kristiani yang memiliki kewajiban untuk mengikuti perayaan Ekaristi, mungkin kita pernah dihadapkan pada suatu pilihan; “Apakah saya akan mengikuti perayaan Ekaristi atau menghadiri undangan pacar, teman, kerabat dan sahabat?” Kebetulan waktunya bertabrakan. Ketika dihadapkan pada situasi semacam ini, kita menjadi dilema untuk memilih yang mana.

Sebagai makhluk sosial yang tidak pernah lepas dari relasi dengan sesama, tanpa sadar kita selalu berpikir bahwa cinta itu melulu terarah kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, yang baik kepada kita, dan juga yang memberikan cintanya kepada kita. Kita merasa bersalah ketika kita tidak membalas cinta orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita menjadi overthinking ketika kita tidak menunjukkan jati diri sebagai makhluk sosial yang baik. Alhasil, Tidak jarang hal itu membuat kita lupa dari mana cinta itu sesungguhnya berasal.

Ketika dihadapkan pada suatu pilihan antara cinta Allah atau cinta manusia, mungkin sebagai orang beriman kita sudah tahu pilihan mana yang lebih tepat untuk dipilih. Tentu kita akan memilih cinta Allah. Namun sering kali kita tidak punya alasan yang kuat, mengapa kita harus memilih cinta Allah, sehingga kita lebih mengutamakan cinta sesama yang bagi kita adalah sesuatu yang real atau nyata.

Sebagai pertimbangan, kita dapat berpikir mengenai perkataan Yesus “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” (Yoh. 15: 9). Dalam kalimat tersebut Yesus menegaskan bahwa Ia mengasihi manusia sama seperti Bapa yang mengasihi-Nya. Mudahnya, kita dapat mengartikan bahwa kasih Yesus kepada manusia dilatar belakangi oleh kasih yang Ia terima lebih dulu dari Bapa. Di sinilah kita mengenal istilah cinta horizontal (cinta dari dan bagi Allah) yang mendahului cinta vertical (cinta dari dan bagi manusia).

Yesus menjadi teladan bagi kita dalam memilih cinta Allah yang tidak terhingga. Sudah semestinya kita menjadi sadar bahwa tanpa cinta Allah, kita tidak mungkin mampu mencintai sesama manusia yang ada di sekitar kita. Oleh Karena itu, kendatipun ada seribu satu alasan orang tertarik untuk membahas topik mengenai cinta, yang harus selalu kita ingat adalah “God is Love” (1Yoh. 4: 8). Dia yang menjadi alasan dari semua alasan yang membuat kita tertarik untuk membahas soal cinta kita kepada sesama.

Semoga melalui permenungan hari ini, kita semakin dimampukan untuk merasakan cinta Allah dan memberikan cinta kita kepada Allah sepenuhnya. Dengan demikian, cinta yang kita bagikan kepada sesama manusia sungguh-sungguh menjadi cinta yang bersumber dari Allah dan tertuju kepada Allah.

 

In Corde Iesu

Fr. Enda Sura Atmaja Ginting, SCJ

 

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now
Whatsapp