Kamis Putih – CINTA YANG TANPA BATAS (UNLIMITED LOVE) (Yoh 13:1-15)

Berjalan Bersama Yesus
April 10, 2022

Kita sudah memasuki Pekan Suci untuk mengenang sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus. Kita mengawali rangkaian perayaan ini dengan merayakan Hari Minggu Palma. Perayaan untuk mengenang Yesus memasuki Kota Yerusalem. Minggu Palma memperlihatkan pintu masuk “kemenangan” Kristus Raja di Kota Yerusalem—sebelum Sengsara-Nya. Ini adalah perjalanan final, terakhirnya ke Yerusalem. Suatu perjalanan yang akan mencapai puncaknya di Salib. Sebuah perjalanan pamungkas. Sebelum Yesus melewati jalan salib sampai Golgota, Dia merayakan perjamuan cinta kasih bersama para murid-Nya. Suatu kisah pemberian diri Yesus yang tanpa pamrih.  Dalam perayaan Kamis Putih, kita merayakan dan menyaksikan dua tindakan Yesus yang mengungkapkan bagaimana Ia menyerahkan diriNya secara total bagi kita. Yesus menyerakan diri sebagai bukti Dia memiliki cinta yang tanpa batas untuk kita.

Pertama, Ia menyerahkan diri-Nya sebagai pelayan, sebagai hamba. Dalam Injil Yohanes 13:1-15, Yesus bertindak sebagai pelayan, bahkan terasa sebagai budak, mencuci kaki murid-muridNya. Membasuh kaki adalah pekerjaan yang hanya dilakukan oleh para budak pada zaman itu. Di sini, Yesus rela memperbudak diri demi pengabdian kasih yang ikhlas. Titik sentral dari peristiwa ini bukan “Yang besar harus mengabdi yang kecil”, melainkan “yang besar itu rela menjadi yang kecil” untuk kepentingan semua. Dengan demikian, pembasuhan kaki menjadi tanda penyelamatan, karena Tuhan yang Agung, Maha Kuasa, Pencipta alam dan manusia, rela menjadi pelayan, yang terkecil di antara manusia dan melayani manusia. Tuhan menyerahkan diriNya bagi manusia dengan cara yang tidak dapat kita bayangkan. Tuhan menjadi budak bagi manusia.

Kedua, Ia menyerahkan diri-Nya dalam ekaristi. Pada perjamuan malam terakhir Ia mengambil roti, mengucap syukur lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-muridNya sambil berkata: “Ambillah, inilah TubuhKu yang diserahkan bagi kamu.” Sesudah itu, Ia mengambil piala yang berisi anggur, mengucap syukur lalu memberikannya kepada murid-muridNya seraya berkata: “Inilah darahKu, darah perjanjian baru, yang ditumpahkan bagi banyak orang.”  Dengan kata-kata itu, Yesus telah menyerahkan diri seutuh-utuhnya bagi kita. Penyerahan diri secara tuntas akan dilaksanakanNya di atas salib. Memberi, menyerahkan diri rupanya sesuatu yang ilahi. Ibu Theresia dari Kalkuta pernah berkata: “Tuhan itu berarti memberi”. Leo Tolstoi dari Rusia pernah pula menyatakan: “Kalau seseorang bertanya kepadamu siapakah Tuhan itu, berikan dia sepotong roti dan katakan: Inilah Dia!!”

Sesudah mencuci kaki para muridNya, Yesus berkata: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat bagimu? Kamu menyebut Aku guru dan Tuhan dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah guru dan Tuhan. Jadi, kalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu supaya kamu juga berbuat yang sama seperti yang telah Kuperbuat bagimu.” Tuhan Yesus  ingin supaya tindakan penyerahan diri-Nya dalam peristiwa pembasuhan kaki para murid-muridNya senantiasa kita ulangi dan hayati sendiri dalam kehidupan kita setiap hari. Kita juga harus berani memberi diri tanpa pamrih untuk kebaikan semua orang (Bonum Commune). Kita harus memiliki cinta yang tanpa pamrih, memberi diri secara total untuk semua orang.  Kita percaya bahwa di bawah terang perayaan Pekan Suci ini, penderitaan selalu menyisakan kegembiraan rohani bagi kita karena melalui derita dan kepedihan, kita dapat mengenal HATI TUHAN Yesus dengan lebih benar. Hati Tuhan yang penuh cinta, tanpa batas, memberi tanpa pamrih. Selamat menimba kekayaan rohani yang melampaui ruang dan waktu dalam PEKAN SUCI ini.

 

RD. Stephanus Turibius Rahmat

Keuskupan Ruteng

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Call Now
Whatsapp