Cinta Allah Sumber Segala Cinta

Terima Kasih dari KKMK St Odilia
Januari 16, 2022
Single Catholic Community Event
Januari 30, 2022

Suatu ketika, mama saya bercerita bahwa ketika abang saya masih balita, dia selalu membawanya ke tempat kerja. Kemudian, saya membayang-bayangkan betapa sulitnya mama yang harus bekerja sekaligus menjaga abang saya yang masih muda itu. Lalu, saya bertanya kepada mama saya, “Mengapa tidak dititipkan ke orang?” Mama pun menjawab, “Ya tidak bisa seperti itu, nanti mama cemas.” Dalam jawaban itu, saya merasakan kasih sayang yang besar seorang ibu kepada anaknya. Tentu seperti inilah cinta yang ingin Tuhan tawarkan kepada kita. Cinta seorang ibu yang rela memberikan segalanya bagi anak yang dikasihinya. Cinta Tuhan yang rela mengosongkan diri dan menjadi sama seperti manusia (Flp. 2:7)

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anaknya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16). Sabda Allah yang luar biasa ini menyampaikan kepada kita betapa besarnya cinta yang diberikan Allah kepada kita semua. Oleh karena cinta-Nya yang begitu besar, sehingga mendorong kita untuk mencintai-Nya serta mengasihi orang-orang di sekitar kita. Maka menjadi jelas bahwa hukum yang utama dan terbesar ialah mengasihi Allah dan sesama. Tidak mungkin kita berkata mencintai Allah tanpa kita mencintai sesama kita. (1 Yoh. 4:20).

Seseorang pernah berkata kepada saya bahwa sesungguhnya kita tidak pernah dapat mendefinisikan arti cinta secara tepat. Sebab pada dasarnya bentuk cinta yang dimiliki setiap orang itu berbeda-beda, bentuk ini akan menemukan kecocokannya pada saat kita dapat menemukan pasangannya yang tepat. Nampaknya ini terdengar seperti sebuah lagu romansa yang beberapa waktu lalu sering kita dengar. Namun senyatanya begitulah cara kita mencintai. Kita mencintai dengan bentuk dan cara kita masing-masing, hingga pada akhirnya cinta kita itu ditujukan dengan cinta yang lebih tinggi yaitu cinta kasih Allah.

Tentu saja, mencintai bukanlah suatu perkara yang mudah dilakukan bagi setiap orang. Begitu banyak ketakutan dan kecemasan saat kita ingin mencitai, sehingga kita lebih memilih sibuk dengan diri sendiri dan mencintai diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Mengapa kita takut mencintai? Karena cinta kita itu masih terpusat pada diri kita, sehingga kita menuntut balasan yang sama dengan apa yang kita berikan. Santo Ignatius pernah mengatakan bahwa untuk dapat mencintai, kita perlu memahami. Untuk dapat memahami orang lain, kita harus dapat siap berkorban sehingga cinta kita itu dapat tulus tanpa mengharapkan balasan apapun. Oleh karena cinta kita itu sudah terpusat pada Allah bukan terpusat pada diri kita. Pertanyaannya beranikah kita berkorban?

Pada akhirnya, Kita semua adalah satu di dalam cinta kasih Allah. jika kita berpengang teguh dan percaya bahwa Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:16). Maka, ketika kita mengasihi orang lain itu berarti kita meng”Allah”i orang itu, ini artinya kita mengakui bahwa sesama kita itu juga bagian dari cinta kasih Allah. Sebab Tuhan Yesus pernah berkata “Apa yang kau lakukan… kamu lakukan juga terhadapa aku” (Mat 25:40). Oleh karena itu, langkah sederhana mencintai Allah dengan mencintai sesama. Dengan demikian, kita pun dapat merasakan cinta kasih Allah lewat cinta orang-orang di sekitar kita.

Jangan takut mencintai karena cinta itu lebih murni dari bensin eceran dan lebih hangat dari kopi hitam di pagi hari.

Salam dari hangatnya kasih sayang,

Frater Eugenius De Mazenod Gerald Pascha

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now
Whatsapp